ENAM LANGKAH DALAM MENCAPAI KEDAMAIAN

Pada kesempatan yang berbahagia ini marilah kita gunakan kitab suci Atharva Veda XII.I.I  sebagai dasar pandangan dan pedoman untuk menata hidup dan kehidupan kita, sebagai upaya untuk menciptakan Kedamaian / keharmonisan di Bumi. Untuk lebih jelasnya mari kita cermati dengan dasar pandangan dan pedoman yang dimaksud, adalah sebagai berikut:

  1. Satyam = Perilaku kebenaran, Kebajikan, kejujuran, keadilan, tidak berbuat diskriminatif pada sesama, dan pengetahuan tentang kesucian dan kebenaran.
  2. Rtam =  Hukum alam dan hukum duniawi, prilaku untuk tidak merusak system hukum.

Meneta hidup dan kehidupan ini dengan prilaku yang tidak bertentangan dengan hukum alam (hukumnya Tuhan) dan hukum duniawi (hukum yang di buat manusia (berdasarkan musyawarah mufakat) agar prilaku manusia tidak menyimpang dan merusak system hukum sehingga kedamaian abadi dapat terwujud.

3. Diksa = Kesucian, penyucian (inisiasi), berprilaku kesucian.

Agar nilai kesucian ini dapat diwujudkan dan berlangsung dan dipertahankan  secara berkesinambungan maka salah satu sastra suci yang dapat di pedomani adalah seperti ucap sastra suci dalam Lontar Silakrama, 41 adalah sebagai berikut :

“Sudhdha ngaranya enjing-enjing madyusa suddha sarira, masurya sevana, mamuja, majapa, mahoma”.

Terjemahannya.

“Sucilah namanya, tiap hari menyucikan diri, mandi, sembahhyang kepada Tuhan, melakukan pemujaan, berjapa dan melaksanakan upacara yajna/homa yajna/agni hotra”.

4. Tapa = Pengekangan diri, pengendalian indria atau berprilaku dengan menahan diri dari hawa nafsu yang berlebihan.

Dalam hidup dan kehidupan ini dibutuhkan sebuah pengendalian diri, agar tidak terjerumus kelembah penderitaan atau agar tidak memunculkan sebuah konflik baru yang menyebabkan nilai kesucian, kebersamaan, penyatuan, keharmonisan dan pemuliaan menjadi semakin jauh. Sehingga dalam hal ini pengendalian diri sangat penting, sehingga konsep mensorgakan (kedamaian abadi) dunia ini dapat diwujudkan. Agar dapat melakukan pengendalian diri dengan baik, mari kita berpedoman kepada sastra suci, seperti yang dinyatakan dalam Lontar Jnana Tattwa, 102-103 adalah sebagai berikut:

“Nihan kang prayogasandhi, kengetakena, prayogasandhi ngaranya, upaya lwirnya, Asana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana, Tarka, Samadhi, maka pusa pusika kabeh, sandhi ngaranya”.

Terjemahannya.

“Inilah prayogasandhi, hendaknya diingat, prayogasandhi artinya Usaha, yaitu Asana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana, Tarka, dan Samadhi, ikatan semua itu disebut sandhi”.

Sastra ini memberikan petunjuk untuk selalu melakukan Tapa dengan metode-metode/langkah seperti yang tersebut dalam Jnana Tattwa itu.

5. Brahma = Berdoa, melantunkan kidung-kidung suci/Gita, prilaku yang selalu melantunkan doa/gita untuk memberikan vibrasi kesucian pada diri sendiri, orang lain dan seluruh sekalian alam.

Prilaku untuk selalu melantunkan Brahma/Doa/Gita/Kirtanam/Zikir Suci penting untuk dilakukan sehingga dengan Brahma ini semakin mempertahankan nilai-nilai Satyam (kebenaran), Sivam (kesucian) dan Sundaram (keharmonisan dan estetika).

Misalnya, Melantunkan Kirtanam/Zikir.

6. Yajña = Pengorbanan, prilaku atau perbuatan nyata untuk ikhlas berkorban demi tegaknya kebenaran dan kesucian.

Hakekat dari prilaku yajna itu harus tetap yang menjadi dasar dan tujuan dari hidup dan kehidupan ini, seperti ucap sastra suci Agastya Parwa ada ditegaskan yajna adalah sesuatu prilaku untuk mencapai sorga/kedamaian dapat di wujudkan. sebagai berikut:

“Kalinganya: tiga ikan karyamuhara swarga ; tapa, yajna, kirtti….”.

Terjemahannya.

Ada tiga macam prilaku yang menyebabkan Kedamaian/Sorga, yaitu Tapa (pengendalian diri), Yajna (Pengorbanan Suci,Iklas berkarma/kerja), Kerti (kebajikan)…”.

Kutipan sastra tersebut secara sederhana dapat dijelaskan bahwa tentang tiga macam perbuatan (karma) yang menyebabkan seseorang dapat menciptakan sorga di dunia, baik dalam dirinya, orang lain maupun sekalian alam. Yang mana salah satu prilaku (karma) itu adalah dengan melaksanakan Yajna.

Selanjutnya yang tidak kalah penting Silakramaning dari yajna itu (etika dalam beryajna) harus diperhatikan agar yajna itu termasuk yajna yang Sattvika (yajna yang paling baik).

Comments are closed.