Archive for June 20th, 2010

Melasti dan Pengerupukan di Jakarta

P

ada acara melasti pada tahun ini kami keluarga KMHD IPB beserta umat Hindu di Bogor ikut melasti ke Pura Segare di Cilincing Jakarta Utara. Pada pukul jam 1 siang, Ida Betara Pura Giri Kusuma dan segala perlengkapan upacara yang akan dibersihkan di laut dipersiapkan dan dibawa menuju ke kendaraan. Dengan iringan baleganjuran mengiringi Ida Betara Pura Giri Kusuma. Di perjalanan, para penabuh dengan semangat memainkan alat baleganjurnya masing-masing sehingga membuat para pemakai tol ikut terhibur dengan alunan baleganjuran tersebut dan kami mahasiswa-mahasiswa KMHD IPB juga ikut memainkannya. Dengan perasaan senang dan bahagia membawa perjalanan kami semakin menarik walaupun di perjalanan sempat turun hujan.

Setelah sampai di Pura Segare Cilincing, Jakarta Utara, semua pemedek dari bogor bersiap-siap menghantarkan Ida Betara menuju ke dalam Pura Segare dengan diiringi oleh baleganjuran. Suasana dekat pantai membuat kami terasa seperti di swargan. Desahan gelombang pantai terasa sampai di lapangan tempat para umat bersembahyang. Indahnya awan saat matahari terbenam dan membuat para umat sangat terpesona oleh kecantikan dan keagungan Ida Sang Hyang Widhi. Acara Melasti di Pura Segare sangat ramai didatangi oleh umat Hindu dari segala penjuru wilayah di Jabodetabek. Setelah rangkaian acara pujawali di dalam pura selesai, para umat bersiap-siap untuk melakukan persembahyangan. Suara mantram gayatri para umat berhasil menggetarkan hati setiap insan yang ada di sekitar wilayah Pura Segare. Selain acara tarian yang dihadirkan, namun di acara tersebut juga dihadirkan juga pendharmawacana yaitu Bapak Gede Jaman dari Pembimas Hindu Jakarta dengan memberikan siraman rohani yang berhasil menghanyutkan perasaan para pemedek. Beliau menceritakan tentang awal kegiatan melasti ini dan melasti ini juga dilaksanakan umat Hindu di seluruh dunia. Ada sesuatu unik yang terjadi pada acara melasti pada saat itu. Seseorang pemangku memberikan tirta dengan ciri khas beliau sehingga beberapa pemedek terhibur dengan cara khas beliau memberikan tirta kepada umat. Setelah upacara Melasti selesai dilaksanakan, semua umat Hindu kembali ke tempatnya masing-masing. Setelah kami rombongan dari Bogor sampai di Pura Giri Kusuma, kami bersembahyang dan meletakkan peralatan ke tempatnya. Kami rombongan mahasiswa/I setelah selesai sembahyang, kami meminta ijin kepada bapak kelian banjar bogor.

Pada hari Senin (15/03/10), kami mahasiswa IPB kembali pergi menuju ke Monas di Jakarta Pusat untuk mengikuti acara Pengerupukan dan Mengarak Ogoh-ogoh sebagai simbol penetralisir pengaruh bhuta kala agar tidak menggangu saat hari raya Nyepi. Dengan ogoh-ogoh yang dibuat secara gotong royong umat Bogor, kami KMHD IPB dan umat Bogor ikut acara pengerupukan di Monas. Dengan semangat dan keceriaan hati setiap umat acara tersebut berlangsung sangat meriah. Banyak ogoh-ogoh ditempatkan di sana, tidak hanya itu beberapa barong ket, beberapa kelompok marawis, ondel-ondel, dan barong sai ada disana untuk ikut serta memeriahkan acara tersebut. Acara itu dibuka oleh Bapak Gubernur Jakarta, Bapak Fauzi Bowo. Sekitar puluhribuan umat Hindu menunggu arak-arakan ogoh-ogoh dari setiap daerah Jakarta dan Bogor. Kami para rombongan Bogor sangat antusiasme untuk ikut mengarak ogoh-ogoh yang kami buat. Walau kami letih dan capek, kami tetap bersemangat menunjukkan kepada masyarakat di sana bahwa Umat Hindu maha pengasih dengan sesama dan alam dunia. (Admin)